![]() |
| Add caption |
Tuesday, June 25, 2013
Friday, June 21, 2013
PEMBAHASAN PRAKTIKUM PENETAPAN KADAR ASAM AMINO DENGAN METODE LOWRY
PEMBAHASAN
Tujuan
dari praktikum ini adalah untuk menetapkan kadar protein dengan metode lowry.
Protein merupakan senyawa organic kompleks berbobot molekul tinggi yang
merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama
lain dengan ikatan peptide. Molekul protein mengandung karbon, hydrogen,
oksigen, nitrogen dan kadang kala sulfur serta forfor. Protein berperan penting
dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan virus.
Analisis protein dapat dilakukan
dengan dua metode, yaitu secara kualitatif dan secara kuantitatif. Analisis
protein secara kualitatif terdiri atas reaksi Xantoprotein, reaksi
Hopkins-Cole, reaksi Millon, reaksi Nitroprusida, dan reaksi Sakaguchi.
Sementara itu, analisis protein secara kuantitatif terdiri dari metode
Kjeldahl, metode titrasi formol, metode Lowry, metode spektrofotometri visible
(Biuret), dan metode spektrofotometri UV (Apriyantono dkk 1989).
Metode titrasi formol merupakan suatu metode yang digunakan
untuk mengetahui kadar protein dalam suatu bahan. Titrasi formol hanya tepat
digunakan untuk menentukan suatu proses terjadinya pemecahan protein dan kurang
tepat untuk penentuan jenis protein. Metode titrasi formol ini secara ekonomis
murah, cepat dan tidak memerlukan keahlian khusus, walaupun metode ini termasuk
dalam metode yang konvesional.
Penentuan kadar protein secara biuret didasarkan pada
pengukuran serapan cahaya berwarna ungu dari protein yang bereaksi dengan
pereaksi biuret dimana yang membentuk kompleks adalah protein dengan ion Cu2+
yang terdapat dalam pereaksi biuret dalam suasana basa. Semakin tinggi
intensitas cahaya yang diserap oleh spektrofotometer maka semakin tinggi pula
kandungan protein yang terdapat dalam zat tersebut. Keuntungan dari metode
biuret ini adalah bahan yang digunakan relative murah akan tetapi kelemahan
dari metode ini adalah sensitivitas terhadap bahan yang diidentifikasi rendah
sehingga diperlukan bahan dalam jumlah yang tidak sedikit.
Metode Lowry merupakan
pengembangan dari metode Biuret. Dalam metode ini terlibat 2 reaksi. Awalnya,
kompleks Cu(II)-protein akan terbentuk sebagaimana metode biuret, yang dalam
suasana alkalis Cu(II) akan tereduksi menjadi Cu(I). Ion Cu+ kemudian akan mereduksi reagen
Folin-Ciocalteu, kompleks phosphomolibdat-phosphotungstat, menghasilkan heteropoly-molybdenum blue akibat reaksi oksidasi gugus aromatik
(rantai samping asam amino) terkatalis Cu, yang memberikan warna biru intensif
yang dapat dideteksi secara kolorimetri. Kekuatan warna biru terutama
bergantung pada kandungan residu tryptophan dan tyrosine-nya. Keuntungan metode
Lowry adalah lebih sensitif (100 kali) daripada metode Biuret sehingga
memerlukan sampel protein yang lebih sedikit. Batas deteksinya berkisar pada
konsentrasi 0.01 mg/mL. Namun metode Lowry lebih banyak interferensinya akibat
kesensitifannya (Lowry dkk 1951).
Dalam
praktikum ini penetapan kadar protein dilakukan dengan metode lowry. Protein
standar yang digunakan adalah BSA (Bovine Serum Albumin) atau albumin serum
sapi. Albumin merupakan salah satu jenis
protein globuler yang larut dalam air dan terkoagulasi oleh panas (Winarno,
1989). BSA dalam praktikum ini berfungsi untuk membuat kurva standar. BSA
digunakan karena stabilitas
untuk meningkatkan sinyal dalam tes, kurangnya efek dalam reaksi biokimia, dan
biaya rendah, karena jumlah besar maka dapat segera dimurnikan dari darah sapi,
produk sampingan dari industri ternak.
Reagen
yang digunakan dalam uji lowry salah satunya adalah reagen Folin Ciocalteu. Folin-Ciocalteu merupakan pereaksi kompleks yang
berisi fosfomolibdat dan fosfotungstat. Fungsi dari reagen ini adalah membentuk
kompleks warna biru yang disebabkan dari reaksi antara tirosin yang ada dalam
protein dengan fosfomolibdat dan fosfotungstat.
Hal pertama yang dilakukan dalam praktikum ini adalah
pembuatan kurva baku dengan seri kadar 100mcg/ml – 600mcg/ml. Fungsi dari
pembuatan kurva baku ini adalah untuk membuat persamaan kurva baku y = Bx + A.
Setelah itu sample x, y dan z yang sudah disediakan dipipet sebanyak 0,6 ml
kemudian ditambahkan dengan 3 ml reagen C dan didiamkan selama 15 menit pada
suhu kamar, tujuannya adalah agar protein dan reagen dapat tercampur sempurna. Selanjutnya
ditambahkan 0,3ml reagen E untuk membentuk kompleks warna biru, vortex agar
campuran homogen kemudian diinkubasi kembali pada suhu kamar selama 15 menit.
Inkubasi yang kedua merupakan waktu dimana campuran protein dengan reagen akan
memberikan absorbansi yang maksimum. Kurva baku diperlakukan sama seperti
sample. Untuk blanko digunakan aquadest 1,0ml yang selanjutnya diperlakukan
sama seperti sample. Fungsi blanko sendiri adalah untuk meng 0 kan
spektrofotometer. Larutan blanko merupakan larutan tidak berisi analit yang
beperan sebagai larutan pembanding dalam analisa fotometri. Selanjutnya
campuran dibaca absorbansinya pada panjang gelombang 500nm dengan menggunakan
spektrofotometer visible.
Panjang gelombang 500nm merupakan panjang gelombang maksimal
dimana serapan optimal sehingga absorbansi dapat dibaca pada spektrofotometer
visible. Dalam praktikum ini digunakan spektrofotometer visible karena larutan
yang akan dibaca absorbansinya berwarna.
Prinsip kerja spektrofotometer visible ini adalah cahaya
wolfram jatuh pada suatu medium homogen, sebagian dari sinar akan bdipantulkan,
sebagian lagi akan diserap dalam medium tersebut dan sisanya diteruskan. Nilai
yang keluar dari cahaya yang diteruskan dinyatakan dalam nilai absorbansi karena
memiliki hubungan dengan konsentrasi sampel.
Setelah dihitung kadar sampel x adalah -89,57, kadar sampel y
adalah 81,04 dan kadar sampel z adalah 325,63. Kadar sampel x yang negative
dapat disebabkan karena kesalahan dalam memipet dan dalam pencampuran.
Thursday, June 20, 2013
PEMBAHASAN PRAKTIKUM TES HCG
PEMBAHASAN
Praktikum
ini bertujuan untuk menentukan adanya hormone HCG di dalam urin untuk tes
kehamilan dengan teknik imunologik. Hormone HCG atau human chorionic
gonadotropine merupakan hormon glikoprotein dari keluarga gonadotropin yang awalnya disintesis oleh embrio manusia, dan kemudian dilanjutkan oleh syncytiotrophoblast,
bagian dari plasenta, selama masa kehamilan. Hcg berfungsi untuk memicu sel-sel interstisial ovarium,
memicu terjadinya ovulasi, memicu luteinisasi pada sel-sel granulase,
mempertahankan fungsi dan umur korpus luteum serta menaikkan sekresi
progesterone oleh sel-sel korpus luteum.
Pada praktikum ini pengujian
kehamilan dilakukan dengan dua cara. Yang pertama dengan menggunakan reagen
beta gravindex dan yang kedua dengan menggunakan alat uji kehamilan test pack.
Uji
kehamilan dengan test gravindex didasarkan pada aglutinasi penghambatan lateks.
Adanya aglutinasi menunjukkan indikasi kehamilan. Tes menggunakn reagen beta
gravindex sangat sederhana, tidak mahal dan hanya membutuhkan waktu dua menit
untuk melakukannya. Tes menggunakan beta gravindex akan menunjukkan hasil
positif 2 hari setelah terlambat menstruasi. Wanita yang akan melakukan tes
kehamilan dengan menggunakan reagen beta gravindex disarankan untuk membatasi asupan cairan pada malam
hari. Sampel urin yang baik digunakan untuk test uji kehamilan adalah urin
segar yaitu urin yang pertama keluar pada pagi hari, dikarenakan urin pada saat
itu adalah urin dengan konsentrasi hcg paling banyak.
Pengujian
kehamilan dengan menggunakan reagen beta gravindex dilakukan dengan cara
menempatkan urin 1 sampai 3 tetes pada lempeng objek kemudian ditambahkan
dengan reagen beta gravindex, aduk dan tunggu selama 2 menit. Jika pada
campuran urin dengan reagen beta gravindex terbentuk agutinasi (butiran-butiran
kecil berwarna putih) maka urin tersebut positif dan jika tidak terbentuk
aglutinasi maka urin tersebut negative.
Reagen
beta gravindex merupakan suatu reagen berisi serum hcg (latex), dasar dari tes
kehamilan dengan menggunakan reagen beta gravindex adalah reaksi
antigen-antibodi dengan hcg sebagai antigen. Pada suatu urin dengan tingkat hcg
tinggi maka zat antibody akan menggumpalkan partikel
lateks HCG berlapis dan menyebabkan terbentuknya aglutinasi sedangkan pada urin
dengan tingkat hcg rendah, maka hcg akan berikatan dengan antibody dan antibody
yang tidak akan menggumpalkan partikel lateks hcg berlapis sehingga aglutinasi
tidak terbentuk.
Jika tidak yakin dengan
suatu kehamilan maka dapat dilakukan tes dengan cara meneteskan urin sebanyak
1- 2 tetes pada bagian tengah lempeng objek, kemudian pada sisi kanan dan kiri
diberi control positif dan control negative, control positif sudah disediakan
dalam botol dengan tutup berwarna merah dan control negative yang berisi kotrol
dan serum anti hcg ditandai dengan warna biru. Pada praktikum ini hal ini tidak
dilakukan karena urin yang dibawa sebagai sampel sudah jelas diketahui
kebenarannya, mana yang positif dan mana yang negative.
Pengujian kehamilan yang
kedua dilakukan dengan menggunakan alat uji kehamilan test pack. Pada praktikum
ini uji kehamilan dengan menggunakan test pack hanya dilakukan pada urin yang
positif saja, tujuannya adalah hanya untuk melihat bagaimana parameter positif
pada test pack.
Test pack merupakan suatu
alat uji kehamilan yang banyak diperjual belikan di apotek. Test pack adalah
alat uji kehamilan yang praktis karena dapat dilakukan sendiri di rumah. Setiap strip test pack mengandung
campuran nitrocellulose membrane dengan 0,6 mikogram Anti-HCG capture antibodi.
0,6 mikogram Anti-Mouse IgG. 0,07 mikogram dan Anti-HCG antibodi gold. Test
pack bekerja dengan cara mendeteksi adanya hormone hcg dalam urin dengan
kepekaan tertentu. Test pack yang kami gunakan memiliki kepekaan 25 mIU / ml
urin.
Test pack digunakan dengan cara
mencelupkan bagian strip ke dalam urin yang telah ditampung dalam suatu wadah
yang bersih hingga batas, diamkan selama 1-3 menit, angkat dan baca hasilnya.
Dalam test pack terdapat control
line dan capture/test line. Alat test kehamilan sebenarnya hanya terdiri dari
membrane yang telah dilapisi dengan antigen-antibodi anti hcg pada daerah
capture/test linenya, sehingga daerah itu hanya akan membentuk garis warna
apabila ada hcg dalam urin sampel. Control line akan tetap berwarna merah pada
kondisi positif atau negative,sehingga control line menjadi tanda acuan
ketepatan hasil tes.
Tuesday, June 11, 2013
PEMBAHASAN PRAKTIKUM MENGHITUNG JUMLAH ERITROSIT
PEMBAHASAN
Praktikum
ini bertujuan untuk menghitung jumlah eritrosit dalam 1ml darah. Eritrosit adalah
sel darah merah. Eritrosit berfungsi untuk mengikat O2 dan diedarkan ke seluruh
tubuh. Eritrosit berbentuk bundar, pipih dan bikonkaf dengan diameter 7,5
mikron dan tebal 2mikron.
Pada
praktikum ini digunakan EDTA sebagai anti koagulan dan larutan hayem yang
berfungsi sebagai pemecah leukosit.
Anti koagulan adalah zat yang
mencegah penggumpalan darah dengan cara mengikat kalsium atau dengan menghambat
pembentukan trombin yang diperlukan untuk mengkonversi fibrinogen menjadi
fibrin dalam proses pembekuan. EDTA adalah salah satu jenis anti koagulan yang
sering digunakan. EDTA umumnya tersedia dalam bentuk garam
sodium (natrium) atau potassium (kalium). EDTA mencegah koagulasi dengan cara
mengikat atau mengkhelasi kalsium. EDTA memiliki keunggulan dibanding dengan
antikoagulan yang lain, yaitu tidak mempengaruhi sel-sel darah, sehingga ideal
untuk pengujian hematologi, seperti pemeriksaan hemoglobin, hematokrit, KED, hitung
lekosit, hitung trombosit dan retikulosit. Penggunaan EDTA harus tepat, bila
jumlah EDTA kurang, darah dapat mengalami koagulasi. Sebaliknya, bila EDTA
kelebihan, eritrosit mengalami krenasi, trombosit membesar dan mengalami
disintegrasi.
Ada tiga macam EDTA, yaitu dinatrium
EDTA (Na2EDTA), dipotassium EDTA (K2EDTA) dan tripotassium EDTA (K3EDTA).
Na2EDTA dan K2EDTA biasanya digunakan dalam bentuk kering, sedangkan K3EDTA
biasanya digunakan dalam bentuk cair.
Seperti
yang kita ketahui darah adalah salah satu cairan tubuh yang terdiri dari cairan
plasma dan sel. Sel yang terkandung dalam darah yaitu Eritrosit, Leukosit dan
Trombosit. Trombosit berperan dalam pembekuan darah.
Fungsi dari larutan EDTA dalam
praktikum ini adalah sebagai anti koagulan atau anti pembekuan darah, dimana
EDTA akan mengikat ion-ion kalsium dalam darah sehingga pembekuan darah akan
terhambat.
Larutan
Hayem adalah larutan isotonis yang
dipergunakan sebagai pengencer darah dalam penghitungan sel darah merah.
Apabila sampel darah dicampur dengan larutan Hayem maka sel darah putih akan
hancur, sehingga yang tinggal hanya sel darah merah saja. Larutan Hayem terdiri
dari 5gr Na-sulfat, 1 gr NaCl, 0,5gr HgCl2 dan 100 ml aquadest.
Dalam
praktikum ini hal pertama yang dilakukan adalah mengambil darah probandus dan
ditempatkan dalam tabung reaksi yang sebelumnya telah dicuci dengan EDTA supaya
darah tidak menggumpal, kemudian darah diambil dengan pipet mikro hingga 0,5
dan diambil larutan hayem hingga angka 101 dengan pipet yang sama. Setelah itu
pipet digoyang-goyang agar darah dan larutan hayem homogen. Larutan hayem
berfungsi untuk memecah leukosit dan trombosit tetapi tidak memecah eritrosit,
sehingga pada saat campuran darah dan larutan hayem diteteskan pada bilik
hitung dan diletakkan di bawah mikroskop sel darah yang terlihat di mkikroskop
adalah hanya eritrosit saja. Sebelum campuran darah dan larutan hayem
diteteskan di bilik hitung, campuran darah dan larutan hayem terlebih dahulu
dibuang 1-2 tetes, tujuannya adalah untuk membuang larutan hayem yang tidak
tercampur dengan darah sehingga nantinya campuran darah dan larutan hayem yang
diteteskan dibilik hitung adalah campuran yang benar-benar homogen. Bilik
hitung yang sudah ditetesi oleh campuran kemudian ditutup dengan cover glass
dan diamati di bawah mikroskop. Eritrosit yang dihitung adalah eritrosit yang
terletak pada 100 bilik kecil di tengah bilik hitung. Perhitungan harus
dilakukan dengan cepat sebelum eritrosit rusak dan menggumpal. Perhitungan
dilakukan 2x dengan orang yang berbeda untuk memperkecil kesalahan.
Setelah
dihitung, eritosit probandus berjumlah 7.900.000 dimana seharusnya jumlah
eritrosit normal untuk laki-laki adalah 5.000.000 sehingga probandus didiagnosa
menderita polisitemia.
Polisitemia
adalah suatu keadaan dimana jumlah eritrosit lebih besar dari jumlah eritrosit
normal pada umumnya hal ini dapat disebabkan oleh Penyakit Paru Obstruktif
aktif (PPOK), penyakit ginjal dan sindroma cushing. Polisitemia sekunder juga dapat disebabkan
oleh peningkatan eritropoietin (EPO) baik dalam respon terhadap hipoksia
kronis (kadar oksigen rendah) atau dari tumor mensekresi eritropoietin,
perilaku, gaya hidup seperti merokok, tinggal di tempat yang tinggi, penyakit
paru-paru parah dan penyakit jantung.
Kelainan eritrosit yang lain adalah
oligositemia. Oligositemia merupakan suatu kelainan dimana jumlah eritrosit
seseorang lebih rendah dari jumlah eritrosit seharusnya. Hal ini dapat
disebabkan karena Kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung zat
besi, vitamin B12, asam folat dan vitamin C, unsur-unsur yang diperlukan untuk pembentukan sel
darah merah. Kehamilan.
Wanita yang hamil rawan terkena anemia karena janin menyerap zat besi dan
vitamin untuk pertumbuhannya. Penyakit
tertentu. Penyakit yang
menyebabkan perdarahan terus-menerus di saluran pencernaan seperti
gastritis, radang usus buntu,dll dapat menyebabkan anemia. Obat-obatan tertentu. Beberapa jenis obat dapat menyebabkan perdarahan lambung
(aspirin, obat anti inflamasi,dll). Obat lainnya dapat menyebabkan masalah
dalam penyerapan zat besi dan vitamin (antacid, pil KB, obat
anti artritis, dll). Operasi pengambilan sebagian atau seluruh
lambung (gastrektomi).
Ini bisa menyebabkan anemia karena tubuh kurang menyerap zat besi dan
vitamin B12. Penyakit radang kronis seperti lupus, artritis rematik,
penyakit ginjal, masalah pada kelenjar tiroid, beberapa jenis kanker, dan
penyakit lainnya dapat menyebabkan anemia karena memengaruhi proses pembentukan
sel darah merah.
Monday, June 10, 2013
PEMBAHASAN PRAKTIKUM PEMBUATAN IODOFORM
PEMBAHASAN
Praktikum
ini bertujuan untuk mengetahui reaksi halogenasi karbonil. Reaksi halogenasi
adalah suatu reaksi dimana terjadi pengikatan satu atau lebih atom halogen (F,
Cl, Br, I) pada senyawa organik. Satu-satunya atom halogen yang tidak bisa membentuk
reaksi halogenasi adalah atom F.
Pada
praktikum ini digunakan Aseton murni, Ca(COI)2 dan KI sebagai bahan
baku pembuatan Iodoform. Aseton berfungsi sebagai penyumbang gugus metil CH3,
Ca(COI)2 berfungsi sebagai oksidator dan KI berfungsi sebagai penyumbang
I2.
Hal
pertama yang dilakukan adalah memasukkan 12gr KI ke dalam labu alas bulat
500ml, kemudian ditambahkan 200ml aquadest dan 4ml aseton. KI harus ditimbang
menggunakan kaca arloji, karena sifat KI yang higroskopis. Fungsi aquadest
adalah untuk melarutkan KI karena KI sangat mudah larut dalam air. Setelah itu
kedalam campuran tersebut ditambahkan kaporit sambil digojog supaya campuran
homogen. Penambahan kaporit dilakukan sedikit demi sedikit sehingga kita
mengetahui kapan campuran tersebut netral. Setelah itu campuran didiamkan 10
menit kemudian disaring dengan menggunakan corong bucher dan vakum. Corong
bucher dilapisi dengan kertas saring ganda untuk mengantisipasi terjadinya
kebocoran. Kristal atau residu yang diperoleh kemudian dicuci dengan aquadest
3x, masing-masing pencucian digunakan aquadest sebanyak 100ml. Pencucian
dilakukan dengan aquadest karena aquadest merupakan
pelarut inert yaitu pelarut yang tidak menimbulkan reaksi apapun pada suatu
sistem dan tidak merusak reaksi didalamnya. Tujuan dari pencucian ini adalah
untuk membersihkan Kristal dari residu kaporit yang menempel pada kristal
sehingga diperoleh Kristal yang bersih. Kristal harus dibersihkan dari kaporit
karena kaporit bersifat basa sehingga kaporit dapat menghidrolisa iodoform yang
terbentuk.
Setelah
itu Kristal dimasukkan kedalam labu alas bulat kemudian ditambahkan alkohol
100ml dan dilakukan proses refluks. Alkohol berfungsi untuk melarutkan Kristal
dan untuk membentuk Kristal iodoform yang mengkilap. Saat proses refluks
kedalam labu alas bulat ditambahkan batu didih yang berfungsi untuk
menghomogenkan panas. Fungsi refluks adalah untuk mempercepat reaksi antara
alcohol dengan Kristal yang terbentuk sebelumnya sehingga diharapkan Kristal
dapat larut seutuhnya. Saat proses refluks pada bagian atas pendingin tegak
perlu diberi corong yang disumbat dengan kapas basah, tujuannya adalah untuk
mencegah penguapan.
Pada rangkaian refluks ini terjadi empat proses,
yaitu proses heating, evaporating, kondensasi dan cooling. Heating terjadi pada
saat campuran dipanaskan di labu alas bulat, evaporating ( penguapan ) terjadi
ketika campuran mencapai titik didih dan berubah fase menjadi uap yang kemudian
uap tersebut masuk ke kondensor dalam. Cooling terjadi ketika air mengalir dari
bawah menuju kondensor luar. Air harus dialirkan dari bawah dengan tujuan agar tidak
ada turbulensi udara yang menghalangi dan agar air terisi penuh. Proses yang
terakhir adalah kondensasi (Pengembunan), proses ini terjadi di kondensor, jadi
terjadi perbedaan suhu antara kondensor dalam yang berisi uap panas dengan
kondensor luar yang berisikan air dingin, hal ini menyebabkan penurunan suhu
dan perubahan fase dari steam tersebut untuk menjadi liquid kembali.
Setelah direfluks kemudian campuran disaring dalam
keadaan panas dengan menggunakan corong kaca dan kertas saring, setelah itu
filtratnya didinginkan dengan menggunakan es batu sehingga iodoform yang
dilarutkan dalam alkohol mengkristal kembali. Selanjutnya filtrat yang telah
didinginkan tadi disaring dengan menggunakan corong bucher dan vakum, residu
yang diperoleh kemudian dikeringkan dalam oven dan dihitung rendemennya. Tujuan
rekristalisasi ini adalah untuk mendapatkan Kristal iodoform yang benar-benar
murni.
Hasil
rendemen yang diperoleh adalah 22, 74%. Seharusnya hasil rendemen yang
diperoleh bisa lebih banyak, namun pada praktikum ini hanya diperoleh rendemen
sebanyak 22, 74% hal ini dapat disebabkan dari berbagai factor, diantaranya
adalah saat proses penyaringan masih banyak zat yang tertinggal di dalam labu
sehingga rendemen yang diperoleh jumlahnya sedikit.
Pembuatan
iodoform selain dengan menggunakan KI dan Kaporit juga dapat dilakukan dengan
menggunakan I2 dan NaOH. Jika menggunakan I2 dan NaOH
umumnya iodoform yang dihasilkan lebih sedikit daripada jika menggunakan KI dan
kaporit, hal ini disebabkan karena I2 lebih mudah teroksidasi jika
dibandingkan dengan KI selain itu oksidator yang digunakan (NaOH) lebih kuat
jika dibandingkan dengan kaporit sehingga Kristal iodoform yang dihasilkan
lebih rentan untuk terhidrolisis. Pembuatan iodoform dengan menggunakan I2
dan kaporit tidak dilakukan karena keterbatasan waktu.
Labels:
kimia organik
,
laporan
,
tugas
Thursday, June 6, 2013
PEMBAHASAN PENETAPAN KADAR ASAM AMINO DENGAN TITRASI FORMOL
PEMBAHASAN
Praktikum
ini bertujuan untuk mengetahui kadar asam amino dalam gelatin yang dipecah oleh
enzim papain dengan titrasi formol. Titrasi formol merupakan suatu metode yang
digunakan untuk mengetahui kadar protein dalam suatu bahan. Titrasi formol hanya
tepat digunakan untuk menentukan suatu proses terjadinya pemecahan protein dan kurang
tepat untuk penentuan jenis protein.
Dalam praktikum
ini digunakan gelatin sebagai sumber asam amino dan enzim papain yang merupakan
enzim proteolitik. Enzim proteolitik atau disebut juga protease merupakan
kelompok enzim yang menguraikan protein menjadi molekul yang lebih kecil. Setiap
tipe enzim protease memiliki kemampuan berbeda dalam menghidrolisis ikatan peptide,
dengan kata lain sifat kerja enzim adalah spesifik sehingga dalam praktikum ini
digunakan enzim papain yang dapat memecah kandungan protein yang terdapat dalam
gelatin. Gelatin mengandung 9 asam amino essensial yang diperlukan oleh tubuh.
Pada praktikum
ini hal pertama yang dilakukan adalah membuat larutan gelatin 5%. Larutan gelatin
5% dibuat dengan cara melarutkan 5gr gelatin kedalam 100ml air hangat. Gelatin mudah
larut dalam air hangat dan jika dilarutkan dalam air dingin gelatin akan
menggumpal. Kedalam larutan gelatin ini kemudian ditambahkan 3 tetes
phenolptalein dan NaOH 0,1N tetes demi tetes menggunakan pipet hingga muncul
warna merah muda setelah itu ditambahkan HCl 0,1N tetes demi tetes hingga warna
merah muda hilang. Setelah itu campuran tersebut dimasukkan ke dalam incubator dengan
suhu 38oC selama 15 menit. Penambahan NaOH dan HCl bertujuan untuk
menetralkan campuran.
Setelah
itu dibuat larutan papain 25ml dan ditambahkan indicator phenolptalein, setelah
itu ditambahkan NaOH 0,1N tetes demi tetes hingga muncul warna merah muda
kemudian ditambahkan HCl 0,1N hingga warna merah muda hilang. Perubahan warna
yang terjadi disebabkan karena adanya indicator phenolptalein, dimana
phenolptalein akan berwarna merah muda ketika suasana basa dan menjadi tidak
berwarna ketika suasana asam.
Setelah
campuran gelatin diinkubasi selama 15 menit kemudian ditambahkan campuran
papain yang sudah dibuat tadi kedalamnya dengan tujuan untuk menghidrolisis
protein yang terkandung dalam gelatin menjadi asam amino sehingga asam amino yang
terdapat dalam gelatin tersebut dapat diketahui kadarnya.
Dalam interval
waktu yang telah ditentukan yaitu 0, 15, 30, 60, 90 dan 120 menit dilakukan
sampling dengan cara mengambil 10 ml campuran, kemudian dididihkan untuk merusak
enzim sehingga proses hidrolisis protein yang terdapat dalam gelatin terhenti setelah
itu didinginkan dan ditambah dengan 15 ml formalin netral dan 3 tetes indicator
phenolptalein kemudian segera dititrasi dengan NaOH 0,02M. Penambahan formalin
berfungsi untuk membentuk dimethilol. Dengan
terbentuknya dimethilol ini, berarti gugus asam amino sudah terikat dan tidak
akan mempengaruhi reaksi antara asam (gugus karboksil) dengan basa NaOH
sehingga akhir titrasi dapat diakhiri dengan tepat. Titrasi berakhir
dengan titik akhir warna merah muda.
Setiap
setelah dilakukan sampling campuran harus dimasukkan kembali kedalam incubator agar
proses hidrolisis tetap berlangsung. Setiap sampling dilakukan duplo agar kesimpulan
yang didapatkan mendekati akurat, seharusnya setiap sampling dilakukan lebih
dari 2x, namun karena keterbatasan waktu maka pada percobaan ini setiap
sampling haynya dilakukan 2x.
Secara
teori semakin lama interval waktu maka kadar asam amino akan semakin besar, hal
ini disebabkan karena semakin lama waktu yang diberikan maka waktu yang
dimiliki enzim papain untuk memecah protein menjadi asam amino semakin lama
sehingga kadar asam amino semakin banyak. Namun, pada praktikum ini kadar asam
amino pada menit 15 turun dari kadar asam amino pada menit sebelumnya hal ini
dapat disebabkan karena beberapa faktor diantaranya adalah kurangnya ketelitian
dalam melakukan percobaan dan kurangnya ketelitian dalam memipet sampel.
Wednesday, June 5, 2013
PEMBAHASAN PRAKTIKUM KOEFISIEN PARTISI
PEMBAHASAN
Tujuan
Praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh pH terhadap koefisien partisi
obat yang bersifat asam lemah dalam campuran pelarut kloroform-air. Koefiisien partisi
merupakan rasio konsentrasi dari suatu senyawa dalam dua tahap dari dua
campuran yang tidak saling larut dalam pelarut pada kesetimbangan. Koefisien partisi
merupakan factor utama yang mempengaruhi absorbs suatu obat dalam tubuh. Hal ini
disebabkan karenakomponen dinding usus sebagian besar terdiri dari lipid. Obat yang
larut dalam lipid akan lebih mudah untuk diabsorbsi sedangkan obat yang mudah
larut dalam air akan cenderung sukar untuk diabsorbsi. Obat yang mudah larut
dalam lipid akan memiliki koefisien partisi yang besar dan sebaliknya.
Seperti
yang kita ketahui koefisien partisi lipid-air adalah perbandingan kadar obat
dalam fase lipid dan fase air setelah dicapai kesetimbangan. Pada praktikum ini
untuk fase lipid digunakan kloroform sedangkan untuk fase air digunakan larutan
dapar salisilat dengan pH 3, 4 dan 5.
Larutan
dapar merupakan suatu larutan yang dibuat dari pencampuran antara asam lemah
dengan basa kuat atau asam kuat dengan basa lemah.fungsi larutan dapar itu
sendiri adalah untuk mempertahankan pH terhadap penambahan sedikit asam,
sedikit basa maupun pengenceran. Dapar salisilat dibuat dengan cara menambahkan
NaOH padalarutan asam salisilat hingga pH yang dikehendaki. Dalam praktikum ini
penggunaan dapar salisilat berfungsi untuk menjaga pH agar tidak terjadi
penurunan yang signifikan yang dikhawatirkan akan merusak data. Pada praktikum
ini digunakan larutan dapar salisilat dengan pH 3, 4 dan 5 dengan tujuan untuk
mengetahui pengaruh pH terhadap koefisien partisi suatu obat, pada pH mana nilai
Koefisien partisi obat tersebut besar, sehingga obat mudah larutdalam lipid dan
mudah untuk di absorbsi.
Larutan
dapar pH 3, 4 dan 5 masing-masing dipipet 25ml kemudian dicampur dengan 10ml
kloroform dan diinkubasi pada suhu 37oC, tujuannya adalah untuk
mengkondisikan percobaan ini sesuai dengan suhu tubuh normal, dimana suhu tubuh
normal adalah 36-37oC. Tiap 15 menit diambil masing-masing 1ml campuran
larutan dapar pH 3, 4 dan 5 dengan kloroform kemudian diencerkan 10x. tujuan
dari dilakukannya sampling tiap 15 menit ini adalah untuk memberiwaktu
salisilat terdistribusi dalam kloroform. Kadar salisilat dikatakan mencapai
kesetimbangan apabila tidak ada perbedaan yang signifikan antara konsentrasi
salisilat pada menit sebelumnya dengan menit berikutnya.
Koefisien
partisi ada 2 macam yaitu TPC (True Partition Coefficient) dan APC (Apparent
Partition Coefficient). Untuk TPC ada beberapa syarat yang harus dipenuhi,
yaitu :
1. Antara
kedua pelarut benar-benar tidak larut
2. Bahan
obatnya tidak mengalami asosiasi atau disosiasi
3. Kadar obatnya
relative kecil < 0,01 M
4. Kelarutan
solute pada masing-masing solvent kecil
Semua persyaratan tersebut harus dipenuhi,
jika tidak maka obat akan mengikuti koefisien partisi semu (APC). Dalam
praktikum ini salisilat mengikuti APC karena kadar salisilat hanya 0,01 M,
selain itu kebanyakan obat dalam praktikum ini salisilat memiliki kondisi non
ideal sehingga hasilnya adalah koefisien partisisemu (APC)
Semakin
besar pH maka koefisien partisi semakin kecil. Hal ini disebabkan karena
salisilat bersifat asam sehingga salisilat akan mudah larut dalam pH asam,
sedangkan semakin tinggi pH maka suasana semakin basa dan menyebabkan salisilat
semakin sukar larut sehingga koefisien partisinya kecil.
Larutan
yang sudah diencerkan kemudian dipipet 2ml dan ditambahkan dengan FeCl3 sebanyak
2ml. reaksi antara ion Fe3+ dan hidroksi pada salisilat akan membentuk kompleks
warna ungu sehingga nantinya absorbansi dapat terbaca dengan spektrofotonmeter
UV.
Labels:
farmasi fisik
,
laporan
,
tugas
Location:
Seoul, South Korea
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)







